Hikayat Siti Mariah: Sebuah Hikayat Roman Fiksi sebagai Pelipur Lara
Sumber foto: www.goodreads.com
Oleh: Jaka Herlambang
Membaca Hikayat Siti Mariah kita akan merasa
ditarik memasuki pertengahan abad kesembilan belas, dimana negeri kincir angin
masih bercokol ditanah ibu pertiwi. Roman ini sebuah dokumen klasik tentang
kehidupan pra-kemerdekaan bangsa. Merekam jejak kehidupan bangsawan belanda
ditengah-tengah kehidupan rakyat Indonesia yang menjalankan system kerja paksa
yang berhubungan dengan tebu atau gula di wilayah pabrik Sokaraja, Jawa Tengah.
Siti Mariah,
tokoh utama dalam roman ini. Dengan memiliki sederetan nama sepanjang hidupnya,
mulai dari nama kecil si Urip, Mardi, Jongos Salimin, Babu Salimah, hingga
Nyonya janda Esobier. Terlahir dari rahim Nyai Sarinem/ Sarijo/ Nyai Hj. Aisah
gundik dari Elout van Hogerveldt seorang kontrolir gula di Kedu.
Ketika masih
dalam kandungan, Ayahanda Mariah meninggal dunia sehingga Bundanya di-nikah-kan
dengan Wongsodrono – seorang yang meiliki kelakun bejat. Saat nyai Sarinem
menjenguk orangtuanya yang sedang sakit. Wongsodrono menggunakan kesempetan ini
untuk melakukan aksi bejat terhadap anak tirinya yang baru berusia sekitar
sebelas bulanan. Wongsodrono berencana membunuh anak tirinya si Urip di
jembatan Karangtempel dimana ia juga pernah membunuh saudara-saudaranya. Namun
Tuhan masih melindungi Mariah dengan menggemakan adzan subuh sehingga
Wongsodrono tidak menjadi membuangnya di kali yang mengalir dibawah jembatan
Karangtempel karena takut disaksikan penduduk setempat. Wongsodrono merasa puas
ketika dipasar Karangkobar daerah distrik Batur ada Mandor pabrik Joyopranoto
beserta istri yang mau membeli anak tirinya seharga empat ratus lima rupiah.
Dengan keluarga barunya ini Urip berganti nama Siti Mariah. Hidup dengan penuh
kemewahan orang tua barunya, berkawan dengan Lucie anak dari Gerrit van
Holstein pemilik pabrik gula serta Sondari/ Haji Mukti saudara sebapa lain ibu,
hingga menjadi Nyai dari Henri Dam/ Sali/ Hubrecth van Goldstein tot Amersfoort
seorang pemuda sekaligus opsiner gula. Dengan Henri Dam, Mariah dikaruniai
seorang Putra bernama Ari,
Di titik inilah
dinamika kehidupan Mariah dimulai: kawin – beranak – cerai – kawin. Petualangan
seorang perempuan tegar dalam menghadapi gejolak kehidupan, mencari sebuah
fakta, kepastian identitas, kebenaran tentang cinta.
Mariah dilanda
musibah bertubi-tubi. Sahabat kecilnya nona Lucie yang dibantu dukun Tangerang
menaklukan suami tercinta dengan guna-guna. Nyonya Gerrit van Holstein mertua
mantan suaminya menyebarkan berita kematian anak semata wayangnya Ari Dam.
Kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya yang penuh
dengan bunga-bunga indah menghiasi hari-harinya, burung-burung berkicau riang
diatas langit cerah, angin berhembus lembut menerpa tubuh sucinya. Semua cobaan
kehidupan ia jalani dengan tulus ikhlas dan penuh kesabaran. Hingga ia dapat
berkumpul secara sempurna dengan orang-orang tercintanya.
Haji Mukti
memaparkan sederetan cerita kehidupan dibalik kejamnya system kerja pakasa yang
patut dibaca oleh generasi bangsa. Bagaimana kejamnya system pergundikan/
pernyaian masa kolonialisme, individu satu memangsa individu lain tanpa
memandang warna kulit, tidak ada kepastian hukum, diskriminasi, money politik, istri membunuh suami
sendiri, keagungan peradaban barat, fenomena kerakusan jongos pribumi dan
keindahan sebuah cinta dari dua anak manusia yang suci. Semuanya disajikan
dalam satu hidangan berupa Hikayat Siti Mariah.


Komentar
Posting Komentar