Peradaban Baru (Sudah) di Depan Pintu Gerbang

Oleh: Jaka Herlambang
CP: +6285940857879
E-mail: jakaherlambang95@gmail.com

Tinggal menghitung jam dengan jari. Masyarakat asia tenggara akan membuka pintu gerbang menuju “peradaban baru”. Peradaban yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dari beberapa negara akan disatukan oleh satu kepentingan bersama. Tidak ada lagi pembatas antar negara:. Kebangsaan, suku, ras, agama, lautan, tanah, udara, tiang pancang, pagar nusa dan semuanya yang dulu menjadi benteng suatu negara, menjadi batas antar negara, satu persatu akan diruntuhkan oleh peradaban baru yang akan segera datang dengan membawa “misi persatuan”.

Indonesia Siap?
Peradaban baru dengan wajah baru sudah menunggu di depan pintu gerbang negeri merah putih. Tawaran-tawaran yang menjanjikan sudah siap menginjakkan kaki dan menawarkan aneka ragam barang dan jasa dengan harga yang berlipat murahnya dan berlipat keuntungan. Jika berefleksi diri apa yang sudah negeri ini lakukan untuk menyambut peradaban baru tersebut?. Negeri ini berdiri diatas konflik, jadi tidak heran jika sampai sekarang konflik dan konflik yang terjadi. Saling mencurigai satu sama lain, saling mengawasi gerak satu sama lain, kata “persatuan” yang dulu pernah dikumandangkan oleh bapak bangsa hanya menjadi azimat paling mujarab untuk memikat hati dan segera dapat disegani kaum sudra.
Negara-negara di sebelah utara sepanjang garis nusantara yang tergabung dalam poros peradaban baru ini, sudah menyiapkan perbekalan yang memadai agar tidak mati kelaparan di tengah perjalanan padang pasir yang terik tak berujung mana puncaknya. Di seberang selat malaka sana, dari lapisan bawah bawahnya tanah sampai atas atasnya langit sudah mengetahui kedatangan peradaban baru ini dan apa yang akan terjadi kedepannya – benteng nasional tetap dikokohkan. Berbeda tiga ratus enam puluh derajat dengan negara yang katanya ber ideologi limasila ini. Peradaban baru hanya “AKU” bukan “KAMU”. Cacing dalam tanah tak dapat menembus permukaan bumi – karena cor semen dan/atau aspal dengan padat menutupinya. Hujan yang katanya pemberi berkah enggan menyirami bumi – karena musim kemarau.

Peradaban baru di depan pintu
Tinggal beberapa jam lagi perdaban baru masuk tapi negeri ini masih sibuk perang sesama saudara. Entah penyakit apa yang menggerogoti dalam tubuh para pemimpin bangsa saat ini, penyakit yang melebihi penyakit kronis. Penyakit yang sulit bahkan munkin takkan pernah tersembuhkan (kecuali malaikat izrail mengajaknya bertemu dengan sang khalik). Dinamika dengan wajah baru setelah operasi plastic akan datang, tapi pertahanan negeri tetap itu-itu saja. Tidak ada kretifitas atau invoasi baru untuk membuat pertahanan yang lebih canggih. Negeri penjajah telah angkat kaki, namun mental jajahan masih tertanam kuat, hingga mudah kembali untuk dijajah itulah Indonesia. Sungguh hebat penyebar, penanam dan perawat bibit-bibit mental jajahan hingga tumbuh sampai sekarang. Jajahan disini bukan hanya jajahan yang berarti sempit. Jajahan yang hanya mengambil sumber daya alam negeri jajahan. Jajahan disini ialah proses jajahan terhadap cara berpikir para manusia negeri jajahan. Sekali lagi bukan jajahan dengan arti sempit.
Apa yang terjadi didalam dunia perpolitikan Indonesia akan menentukan posisi Indonesia sendiri. Tentu para pemenang akan tertawa terbahak-bahak diatas meja goyang ketika melihat pertarungan saudara didalam negeri ini. Karena terjadi perpecahan dan robohlah gedung persatuan bangsa hingga berpuing-puing bahkan menjadi abu beterbangan di udara nusantara hingga hinggap diatas nisan para bapak bangsa Indonesia. Kepala garuda tidak hanya menghadap ke kanan, kepala garuda kini menghadap kanan-kiri secara kontinu.

                                                                                              sumber foto: google.com


“Peradaban baru sudah siap dengan perbekalan yang lebih menanti pintu gerbang nusantara terbuka dan siap membuka lapak menawarkan barang dan jasa dengan harga murah dan untung melimpah. Namun negeri ini masih diselimuti oleh saling curiga, saling tuduh antar elite bangsa, hingga lupa terhadap penjajahan baru yang sudah selesai operasi pelastik yang akan menebarkan candu konsumerisme terhadap masyarakat nusantara.” (jaka herlambang)

Komentar