(Ide) Soekarno sebagai "idola"

Oleh: Jaka Herlambang


Setelah pesta demokrasi bangsa indonesia selesai pada tanggal 9 juli 2014 dan partai berjiwa nasional akhirnya menjadi pemenang pada penghujung perhelatan akbar tersebut hingga lima tahun kedepan. Merupakan sebuah hadiah yang sangat special buat ibu pertiwi atas kemenangan partai nasionalis. Dan lebih special lagi partai tersebut mengusung seorang anak manusia yang memang terlahir dari rahim rakyat indonesia untuk memegang tampuk kekuasaan negeri ini.
Dengan semangat persatuan, jiwa nasionalis dan darah kerakyatan. Sang pemimpin baru bangsa Indonesia menjalankan roda kepemimpinan dengan semangat “NAWACITA, TRI SAKTI, NEGARA MARITIM, dll”. Dimana semuanya merupakan buah pikir cemerlang dari founding father bangsa Indonesia, siapa lagi kalau bukan: BUNG KARNO. Ide-ide/ gagasan-gagasan yang sudah lama dikubur hingga tak berbekas. Akhirnya sekarang dapat bengkit lagi.
Syhadan, seperti jamur di musim hujan. Banyak bertebaran orang-orang mengagumi (kembali) Bung Karno - bahkan membaptiskan diri sendiri sebagai “Soekarnois”. Setiap perkataannya dibumbui kalimat “menurut Bung Karno”, “Bung Karno pernah mengatakan” dll. Semuanya ada kata Bung Karno – agar perkataannya afdhal dan dapat dipercaya. Tidak hanya berbentuk lisan. Dalam bentuk materipun (gambar, tulisan, patung dll) ada Soekarno.
Soekarno menjadi “idola” setiap insan bangsa Indonesia. itulah yang terjadi. Kegagahan tubuh Bung Karno, kegantengan paras Bung Karno, orasi Bung Karno yang membakar semangat, kelihaian diplomasi Bung Karno dll. Mungkin itulah yang menjadikan seseorang mengagumi, mencintai bahkan memuja Bung Karno.
Idola adalah rintangan-rintangan bagi kemajuan manusia sebagaimana tampak dalam kemandegan perkembangan masyarakat dan perilaku bodoh para individunya. Idola adalah unsur-unsur tradisi yang dipuja-puja seperti berhala. Dan idola ini merasuki juga pikiran kita sehingga kita enggan menggunakan kemampuan berpikir kritis (Hardiman:2004). Sir Francis Bacon dikutip oleh F. Budi Hardiman membagi konsep idola menjadi empat. Pertama, idola tribus adalah semacam prasangka-prasangka yang dihasilkan oleh pesona atas keajekan-keajekan tatanan alamiah, sehingga orang tak sanggup memandang alam secara objektif. Kedua, idola cave ialah pengalaman-pengalaman dan minat-minat pridadi sendiri mengarahkan cara berpikir melihat dunia, sehingga dunia objektif dikaburkan. Ketiga, idola fora adalah pendapat atau kata-kata orang lain yang diterima begitu saja sehingga mengarahkan keyakinan-keyakinan daan penilaian-penilaian kita yangtak teruji. Terakhir, idola theatra. Dengan konsep ini, Bacon memperlihatkan bahwa system-sistem filsafat tradisional adalah kenyataan subjektif para filsufnya. System ini dipentaskan lalu tamat, seperti sebuah teater.

Sungguh sangat ironi apabila mengagumi sosok Bung Karno seperti itu. Sedangkan buah pikir Soekarno sungguh sangat cemerlang. Ide-ide Bung Karno masih relevan dengan keadaan yang melanda bangsa ini. Gagasan-gagasannya melintasi ruang dan waktu.

Komentar