IMAJINASI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN BAGI INDONESIA
IMAJINASI
MASYARAKAT EKONOMI ASEAN BAGI INDONESIA
Oleh:
Jaka Herlambang
CP:
+6285940857879
E-mail:
jakaherlambang95@gmail.com
Negara-negara yang tergabung dalam organisasi yang bernama Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA) sudah membuka pintu gerbang negaranya masing-masing di awal
tahun 2016 untuk menyambut peradaban baru ASEAN tersebut. Berbagai sektor
barang dan jasa saling ditawarkan antar negara, masuk sini – keluar sana tanpa
ada jalan buntu, batas territorial negara tidak berlaku lagi, saatnya
perekonomian masyarakat Asean bersatu untuk saling menguntungkan satu sama
lain, inilah beberapa semangat yang terbaca di public. Sungguh “imajinasi” yang agung dari perancang tatanan
ekonomi asean. Dengan adanya MEA, masyarakat ASEAN di-mudah-kan mendapatkan
barang atau jasa sesuai dengan keinginan dan bagi negara (yang tergabung) dapat
melaksanakan tugas yaitu sebagai fasilitator masyarakat. Sekalai lagi, MEA
adalah “imajinasi” rancangan tatanan ekonomi yang Maha Agung.
Kratif dan inovatif harus dimiliki individu-individu agar tetap dapat
bertahan hidup ditengah tatanan baru ini, harus mampu “struggle of life”, tahan banting, dimana judul lagu d’masiv yang
berjudul “jangan menyerah” harus tertanam dalam lubuk hati yang terdalam. Competition kata kunci dari system ini.
Nyawa dari kreatif dan inovatif yang dimiliki individu-individu ialah
kompetisi. Misalnya: si Fulan memiliki idea kreatif dan inovatif melebihi dari
si Falan, si Falon, si Filan tapi si Fulan tidak memiliki ruh, jiwa, nyawa
kompetisi di dalam tubuhnya, namun sebaliknya si Falan, si Falon dan si Filan
idea kreatif dan inovatif lebih rendah dari si Fulan tapi jiwa kompetisi begitu
kuat bersemayam dalam tubuh mereka. Maka cukuplah si Fulan duduk di atas kursi
ayunan dan berdo’a semoga si Falan, si
Falon dan si Filan tidak menjatuhkannya ke tanah.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata dari kompetisi
yaitu: kom·pe·ti·si n 1 persaingan: di antara para siswa
harus diciptakan suasana -- yg sehat dl belajar. Persaingan di KBBI berartikan 1 perihal bersaing;
konkurensi: - di antara sesama pedagang bermodal kecil tidak akan
menguntungkan mereka; 2 usaha memperlihatkan
keunggulan masing-masing yg dilakukan oleh perseorangan (perusahaan,
negara) pd bidang perdagangan, produksi, persenjataan, dsb. Di titik ini
ditemukan kalimat memperlihatkan keunggulan individu. Tentu yang muncul pada
benak ketika melihat, membaca dan mendengar kalimat tersebut akan tertuju pada
satu ideologi besar dunia yaitu: Liberalisme.
Setiap insan
manusia memiliki kompetensi yang telah menyatu dengan darah, daging, sumsum
tulang dalam tubuhnya, kompetensi inilah yang harus di kembangkan agar sang
individu dapat menjadi manusia seutuhnya. Si A dan si B tidak dapat disamakan,
si A kemampuannya ini dan si B kemampuannya itu. Dari pembedaan ini menyebabkan
antara si A dan si B saling memperlihatkan keunggulan masing-masing dan siapa
yang mampu memenangkan kompetisi dialah yang akan menjadi sang juara. Dalam kompetisi
ada yang menang dan ada yang kalah. Sebuah matra yang sering didengar didunia
kompetisi. Mengapa harus ada menang atau kalah? Apa itu menang? Apa itu kalah?
Bagaimana rasa menang? Mungkin itulah sedikit pertanyaan-pertanyaan konyol atau
jempol.
MEA yang sudah
dibuka krannya mulai awal tahun 2016 dan bertujuan untuk menciptakan tatanan
ekonomi asean yang lebih baik. Tentu patut dipertanyakan ulang maksud dan
tujuan dari perancang tatanan ini. Diatas di dapat bahwa bagi seseorang atau
negara yang telah tergabung harus mau berkompetisi dan ketika telah mengikuti
kompetisi harus mau menang atau kalah. Kita patut pertanyakan tatanan ekonomi
apa ini?. Indonesia “katanya” berlandaskan pancasila dan sekarang malah masuk
dan terjebak dalam jaring liberalism
economic. Tentu menjadi tugas besar bagi seluruh segenap warga negara
Indonesia untuk menyelamatkan bangsa ini dari rong-rongan liberalisme.
Pada sila
kelima tertulis jelas yaitu: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Panacasila tidak pernah mengandung unsur menang atau kalah. Pancasila
mengedepankan kepentingan komunal bukan personal. Lalu mengapa bisa pemangku
kekuasan negara dapat masuk dalam jeratan tatanan dunia ekonomi baru yang
keliru diterapkan di Indonesia tercinta?
Tentu rancangan
yang Maha Agung bagi perancang dan hanyalah menjadi imajinasi belaka bagi Indonesia
untuk mengejewantahkan sila kelima dengan masuk dalam lubang buaya yang bernama
masyarakat ekonomi asean.


Komentar
Posting Komentar