Tattoo (Rajah): Realitas Sosial Kolot Orde Baru yang Harus Dikubur



Oleh: Jaka Herlambang
Motivasi
Akhirnya setelah sekitar empat atau lima tahun tidak berjumpa. Kini di acara reuni tahunan keluarga, saya dapat bertemu dengan salah satu sepupu paling anti mainstream. Saya dengan dia terpaut usia sekitar tiga atau empat tahun – entahlah itu tidak begitu penting juga. Dia adalah sepupu yang menurut saya paling merdeka. Hanya dia diantara sekian puluh sanak saudara paling berani tampil beda, berani dalam menghadapi asam-manis kehidupan, dialah sang bocah petualang.
Sepupu saya ini tidak berubah. Raut wajahnya masih tetap. Omongannya, tingkah lakunya, masih sama seperti yang saya kenal dulu. Hanya saja kini dia sudah tidak bersama dengan istri tercinta dan anak kesayangannya. “aku ki saiki wes urip sebatang karang” itulah kalimat yang saya dengar ketika pertama berjumpa lagi. Padahal masih memiliki orang tua, sanak saudara. Kalimat tersebut sungguh menyayat hati saya. Seakan dia memang benar-benar tidak memilki siapa-siapa selain ruh yang masih bersemanyam dalam tubuh kekarnya dan Tuhan yang selalu mendampingi kemanapun dia menginjakkan kaki di bumi. (Bukan tentang cerita sedih yang akan penulis sajikan kali ini, mari kita lupakan sejenak. Mungkin lain waktu saja penulis hidangkan buat pembaca, itupun kalau ada waktu menulis).
Setelah penulis lihat-lihat ada sesuatu yang aneh ditubuhnya. Ada semacam goresan-goresan berbentuk gambar menempel pada tubuh sepupu saya tersebut. setelah saya tanyakan ternyata benar. Itu memang tattoo atau rajah. Setelah ditanya, ternyata dia sengaja merajah beberapa bagian dari tubuhnya untuk mengabadikan kenangan hidup yang pernah dilalui dan harapan masa depan. Di lengan kiri ia tattoo dengan gambar ikan mas koki, dimana menurut mitos jepang membawa keberuntungan bagi si empunya dan di pergelangan tangan kanan bertuliskan nama putrinya serta gambar perempuan entah siapa gerangan.
Syahdan, sepupu saya yang bertatto tersebut merasa ada yang aneh disekelilingnya. Semuanya memandang dia seperti macan yang siap menerkam, atau si kancil yang berpikir begitu encer seperti darah. Orang sekitar membicarakan tubuhnya yang bertatto. “tubuh bagus-bagus kok di tattoo, wong edan”, “anak siapa dia kok bertatto”, “koen saiki tattoo-an kok malah tambah koyo preman jalanan le”, “weh wis dadi jagoan saiki wis tattonan” dll. Banyak komentar terlempar kemuka sepupu saya. Walaupun mereka saling berbisik-bisik tetangga-seperti judul lagu. Namun sepupu saya sebagai manusia yang memiliki perasaan, dapat menangkap semua tatapan mata, gerak-gerik sekitarnya seperti binatang buas yang siap menerkam wajahnya kapan saja.

Kegelapan tattoo: Hasil Konstruksi Jenderal
Hal ikhwal diatas membuat saya seakan kembali pada rezim pemerintahan sang jenderal, yang kini fotonya (dengan penuh senyuman khas yang dikenal dengan nama “smiling general) sering nempel di bokong-bokong truk dan ada tulisan berkalimat begini: “piye kabare le, luwih enak jamanku toh!”. Entah berapa dimensi ruang dan waktu  yang saya lewati.
Pada zaman si jenderal yang dikenal dengan orde baru (ORBA). Masyarakat yang memiliki tattoo pada kulit tubuhnya tentu harus sudah siap, tulus ikhlas untuk tergelatak tak bernyawa di tengah-tengah kehidupan masyarakat lain setelah dicabut oleh Penembak Misterius (PETRUS). Karena di era tersebut orang yang memiliki tattoo identic dengan yang namanya preman, perampok, begundal, begal, pokoknya itulah yang berwarna gelap. Dan Petrus malaikat pencabut nyawa bagi orang bertatto di zaman orba.
Realitas sosial tersebut sebagai hasil konstruksi sosial yang dilakukan oleh pemerintah untuk menciptakan kestabilan kehidupan negara – begitulah bunyi pledoinya. Padahal, konstruksi atas realitas sosial yang diproses melalui tindakan dan interaksi antara pemerintah dengan rakyatnya. Melalui cara dengan pemerintah menciptakan secara terus-menerus pembiaran mayat manusia bertatto tergelatak di tengah kehidupan masyarakat. Itu sebagai peringatan, isyarat bagi masyarakat untuk tidak berani melawan pemerintah. Apabila masyarakat berani berteriak kencang seperti mahasiswa heroic seperti zaman sekarang, maka pemerintah lewat malaikat petrus akan mencabut kewarganegaraan hidup di dunia.
Peristiwa-peristiwa pembiaran mayat di jalanan ini harus di terima lapang dada oleh masyarakat walaupun ada yang menolak tindakan keji di zaman sang jenderal – tapi apa daya yang harus diperbuat? Mau melawan?, dorrrrr langsung ditempat. Masyarakat dengan dunia baru yang dicipatakan pemerintah akan mengalami melalui konsep dialektika Peter L. Berger. Pertama, individu harus menyesuaikan diri dengan dunia yang telah diproduksi oleh pemerintah orba (yaitu dengan meihat mayat dijalan). Kedua, terjadi interaksi sosial dalam dunia intersubjektif dalam masyarakat yang telah dilembagakan oleh orba (individu dengan individu lain saling ). Terakhir, individu mengidentifikasi diri di zaman orba karena ia sebagai anggota. Apabila individu dapat mengidentifikasi diri dengan baik dan benar serta sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh penguasa orba maka ia dapat bertahan hidup.

Misteri Rajah
Realitas sosial yang terkonstruk dengan jangka waktu kurang lebih tiga puluh tahun. Ternyata masih melekat dalam benak orang tua yang merasakan, mengalami realitas sosial ala orba tersebut. Padahal ketika ditelisik kebelakang melewati dimensi ruang dan waktu yang tak terhingga. Rajah sudah ada sejak dahulu kala dan bukan tanda kejahatan. Rajah dibuat sebagai suatu penanda dari sang empunya (keberuntungan, status sosial, kecantikan, kedewasaan, harga diri, dan lain-lain).
Dalam peradaban manusia tattoo ditemukan sekitar akhir tahun 1991, pada mumi yang diperkirakan berusia 5.300 tahun telah memiliki tattoo sekujur tubuhnya. Sedangkan, di Indonesia budaya tattoo sudah ada di kalangan masyarakat kepulauan mentawai sekitar tahun 53 (lima puluh tiga) sebelum masehi. Pada masyarakat mentawai, tattoo berkaitan dengan system kemasyarakatan.dan suatu hal yang sacral serta berfungsi sebagai symbol dari keseimbangan alam. Masyarakat berburu merajah tubuhnya dengan gambar hewan hasil buruannya. Di Tiongkok, pada masa Dinasti Ming, wanita suku Drung merajah wajah dan pantat sebagai tanda bagi keturunan baik. Di negeri sakura, tattoo kerap dihubungkan dengan kelompok mafia “Yakuza”. Anggota kelompok ini meiliki tattoo dengan motif tradisional jepang di sekujur tubuhnya. Tattoo ini menunjukkan kedudukan seseorang dalam kelompok. Masih banyak lain tempat yang mempergunakan tattoo sebagai kain kanvas.
Sepanjang peradaban kehadiran bahkan perjalanan adanya tattoo pada kehidupan umat manusia. Tidak ada penggambaran yang menjelaskan bahwa tattoo tertuju pada perilaku yang menyimpang. Sebagaimana yang dikonstruki oleh orde baru untuk melegitimasi kekuasaannya. Malahan, tattoo begitu luhur dipergunakan. Selain menggambarkan peristiwa-peristiwa penting di goa, batuan besar dll yang dialami oleh manusia dahulu. Sebagaimana pelajaran yang disampaikan bapak/ibu guru sejarah waktu masih menginjak bangku sekolah menengah. Ternyata, tubuh dapat menjadi sarana penyampaian peristiwa yang dialami manusia. Tentu tubuh tidak hanya sembarang di rajah, namun tersimpan pesan yang ingin disampaikan oleh individu terhadap individu lain atau masyarakat umum.

Saatnya dikubur
Pengkonstruksian realitas sosial tidak terjadi dalam ruang hampa, namun sangat erat dengan kepentingan-kepentingan. Itulah yang dilakukan oleh pengusa rezim orba untuk tetap dapat bercokol diatas singgasana negeri peritwi. Dengan menggunakan berbagai macam cara salah satunya dengan menelantarkan mayat manusia di tengah hiruk-pikuk kehidupan masyarakatnya.
Apa yang terjadi di masa orde baru. Tentu sudah tidak relevan lagi pada masa sekarang. Lain dulu lain sekarang. Hidup di negera yang bernafaskan ‘Demokrasi’. Tentu merupakan hak bagi setiap individu yang mendiami negeri ini untuk merajah tubuhnya demi kabanggan diri. Dapat dilihat di abad XXI sekarang. Tattoo merupakan salah satu gaya hidup umat manusia. Laki-laki, perempuan, muda, tua, profesi sebagai pengembala sapi hingga penjabat menteri, semua merajah tubuhnya untuk mengabadikan kenangan terindah yang pernah dialami agar tetap abadi.
Oleh sebab itu, individu yang masih menganggap bahwa tattoo atau rajah identic dengan dunia gelap perlu di ruqyah agar ruh-ruh jahat orde baru dapat lepas dari tubuhnya setelah bersemayam lebih dari 30 tahun. Dengan begini individu tersebut akan memiliki jiwa suci seperti bayi baru lahir. Ketika konstruksi pada abad kegelapan Indonesia tentang tattoo dapat diruntuhkan dan dikubur hingga mencapai kerak bumi, penulis akan meminjam judul dari buku R.A. Kartini yaitu: “habis gelap terbitlah terang”.

Komentar