(IN)TOLERANSI: SENSUS BARU INDONESIA

 sumber gambar: RMOL.COM

"Tapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya menyembah Tuhan dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme agama.” Dan hendaknya negara Indonesia suatu Negara yang ber-Tuhan. Marilah kita amalkan, jalankan agama... dengan cara berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat menghormati satu sama lain."
(Ir. Soekarno pada Pidato 1 Juni 1945)


Indonesia kembali diguncang suatu peristiwa yang kini menjadi buah bibir dibeberapa kalangan. Yaitu peritiwa penyerangan seorang pemuda terhadap jemaat gereja St Lidwina, Bedog, Trihanggo, Sleman, D.I. Yogyakarta. Hal ikhwal seperti ini bukanlah barang baru. Namun sebagai masyarakat yang hidup di negara majemuk patut menyayangkan semua ini terjadi.

Kasus intoleransi pada tahun ini harus menjadi sorotan khusus. Mengapa?. Sudah bebrapa kali bangsa ini diuji dengan kasus semacam ini, penulis dapat mengatakan 3 tahun terakhir terjadi moment intoleransi dan viral. Pertama kasus Tanjungbalai, Sumatera Utara sekitar pertengahan tahun 2016. Semua tahu bagaimana masyarakat disana awalnya dikenal sebagai masyarakat yang harmonis, adem tentram. Namun stigma tersebut luluh lantang akibat terjadinya peritiwa yang menyakitkan sanubari.

Kedua, PILKADA DKI Jakarta. Pada tahun 2017, tentu masih ingat bagaimana perjalanan cerita di ibu kota Indonesia ini. Berbeda dengan apa yang terjadi di Tanjungbalai. Masyarakat banyak memandang bahwa peritiwa di Jakarta sarat dengan politik karena memang bertepatan dengan proses pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur baru. Sebagai senjata penyerangan menjatuhkan lawan tentu “SAH” bila kita masih hidup di Hutan Belantara.

Jakarta dikenal dengan kota metropolitan. Diamana masyarakat sudah memiliki pikiran lebih maju, modern dan rasional. Banyak pakar, pengamat politik (apapun itu namanya) jika masyarakat semakin maju untuk memilih pemimpinnya akan semakin rasional, yaitu berdasarkan pertimbangan track record kepemimpinannya yang bersih dari korupsi, dekat dengan rakyat dan lainnya. Namum menurut penulis sendiri Tesis semacam ini “Runtuh” berkeping keping. Isu agama menjadi senjata pamungkas dan menggema sepanjang PILKADA DKI Jakarta (bahkan hingga sekarang).

Selanjutnya, yaitu peristiwa yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 11 februari 2018. Menjadi sorotan media saat ini. Sungguh menyedihkan hal ini harus terjadi di yogyakarta sebagai kota yang banyak melahirkan kaum intelektual, masyarakat harmonis, kota romantis hingga ada pepatah yang mengatakan datang ke jogja sekali akan membuatmu rindu datang lagi, inilah jogja dengan seribu kenangan indahnya. Peristiwa penyarangan dio gereja St Ludwina menjadi tamparan keras buat masyarakat jogja dan pemimpinnya untuk meredam isu intoleransi yang sedang santer menjadi buah bibir.

Apa semua murni perbedaan keyakinan?

Penulis akan dengan lantang mengatakan ”TIDAK”. Serentetan peritiwa intoleransi yang terjadi di Indonesia tidaklah murni karena perbedaan agama. Ada udang dibalik batu, apa itu?. Tanjungbalai dikenal dengan masyarakat yang toleran lalu runtuh seketika. Jakarta dengan masyarakat yang maju, modern, rasional juga runtuh dengan kasus agama yang bergulir dari pilkada hingga sekarang. Kini yogyakarta menjadi sasarannya dan “apakah isu agama bakalan berkobar seperti yang terjadi di Tanjungbalai dan jakarta?”. jika letusan intoleransi yang terjadi di sleman membakar kesejukan Yogyakarta maka ini akan menjadi gunung merapi baru Indonesia.

Kasus ini tidak hanya berhenti di Yogyakarta. Namun Indonesia sebagai bangsa yang besar akan di uji setiap daerahnya dengan kasus yang sama. Penulis mengatakan ini adalah sensus baru. Indonesia sebagai bangsa besar yang konon dengan semboyannya “Bhinneka Tunggal Ika” akankah bisa bertahan dan mebumihanguskan cerita Intoleransi?. Ini menjadi tugas bersama setiap insan yang mencintai Indonesia agar selalu berdiri tegak dengan philosophy grondslagnya yaitu Pancasila

Komentar